Blangko Akta Jual Beli Tanah Langka, Pelayanan Terganggu

Permasalahan klasik kantor pertanahan di beberapa wilayah Indonesia adalah blangko. Permasalahan yang telah “menahun” ini belum juga berhasil diatasi. Paling tidak itu yang bisa disimpulkan dari pemantauan terhadap layanan masyarakat di beberapa kantor pertanahan. Bahkan masalah blangko ini lebih seriius dibandingkan dengan “biaya siluman”.
“Kelangkaan blanko AJB ini terjadi sejak Januari 2011. Hal ini menyebabkan terhambatnya akad pengembang dengan pihak perbankan karena kantor-kantor notaris tidak dapat menyediakan blanko AJB. Di Cirebon, beberapa hari ini kantor BPN setempat tak bisa menyediakan blanko AJB karena belum dikirim kantor pusat BPN,” kata Eddy Ganefo, pada Rakernas Apersi di Semarang, Jawa Tengah, beberapa hari lalu.
“Jika persoalan ini tidak segera diatasi, pengembang akan mengalami kerugian yang sangat besar, terutama pengembang menengah dan kecil. Ratusan bahkan ribuan unit rumah yang siap akad kredit, terpaksa tidak dapat dilaksanakan,” jelas Eddy.
Sebenarnya, menurut beberapa nara sumber yang tak bersedia disebutkan jati dirinya, yang ditemui di beberapa kantor pertanahan, peberlakuan blanko yang teregistrasi oleh Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia (BPN RI), sangat baik. Ada rasa nyaman dan aman, karena tidak lagi khawatir mendapatkan blanko palsu. Pada awalnya, ketersediaannya tidak menjadi masalah, akan tetapi sudah beberapa bulan terakhir ini, ia kembali menjadi langka.
Kelangkaan blanko ini, khususnya terjadi di kantor pertanahan yang dekat dengan Jakarta, seperti di Depok, Tangerang Selatan dan di beberapa kantor pertanahan di Jawa Barat. Sementara itu, untuk kantor pertanahan di DKI Jakarta, beberapa nara suber mengatakan masih belum mengalami kesulitan memperolehnya.
Bahkan seorang narasumber mengatakan, “bos” di tempatnya bekerja (PPAT) harus meminjam kepada beberapa temannya, karena kehabisan blanko AJB. Sebenarnya, untuk permasalahan lainnya, ia bisa memaklumi, yang terpenting ketersediaan blanko bisa terpenuhi. Diakuinya, untuk percepatan pelayanan dan sebagainya sudah sangat baik. “Seharusnya, kelangkaan ini sudah bisa diantisipasi jauh-jauh hari. Sangat disayangkan, pelkayanan yang sudah semakin membaik ini, kembali “tercederai” hanya karena ketersedian blanko yang mendadak menjadi barang langka,” katanya.
Masih dikatakan oleh narasumber yang sama, antisipasi sangat mungkin dilakukan, karena pencetakan blanko sekarang ini menggunakan APBN. Artinya, ketersediaan anggaran sudah terukur, baik dari jumlah dan kurun waktu pengucurannya, kemudian dibandingkan dengan rata-rata kebutuhan perdaerah dan diakumulasikan menjadi kebutuhan nasional. Lelaki yang mengaku sudah 7 tahun berhubungan dengan layanan publik ini menegaskan kembali, telah terjadi progress yang baik, sekarang ini.
Ketika ditanyakan kepada beberapa narasumber, apa penyebab terjadinya kelangkaan blanko ini, semua mengatakan tidak tahu. Mereka tidak mau berspekulasi, apalagi saat ini bersamaan dengan bulan ramadhan, beberapa di antaranya takut apa yang dikatakannya menjadi fitnah, yang bisa mengurangi kualitas puasa mereka. Namun yang jelas, menurut mereka, sekarang ini tidak seperti dahulu, tidak bisa lagi seseorang menimbun blanko.